728 x 90

Sejarah Sumedang

 

Tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Sumedang dengan mengacu pada tiga sumber.  Pertama Kita Warugajagat ditulis Mas Ngabehi Parana (1117 H): Pajajaran merad kang merad ing Salasa ping 14 Wulan Syafar Tahun Jum Akhir. 

Kedua, rucatan Sejarah Dr R Asikin Widjajakusumah menyatakan, Pengeran Geusan Ulun jumeneng nalendra (te kababawa ku sasaha) di Sumedanglarang sabada burak Pajajaran. Artinya Geusan Ulun menjadi raja berdaulat di Sumedanglarang.
Ketiga, disertasi Prof Drs Husein Djajadiningrat, serangan Islam ke ibukota Pajajaran terjadi pada tahun 1578. 

Berdasarkan ketiga sumber itu, keputusan DPRD nomor 1/KPTS/DPRD/SMD/1973 tanggal 8 Oktober 1973 menetapkan 22 April sebagai hari Jadi Sumedang.

Dalam Kitab Waruga Jagat 1117 H disebutkan Sang Aji Putih atau dikenal Tajimalela, putra Prabu Guru Haji Aji Putih mendirikan kerajaan Mandala Hibar Buana yang berkedudukan di Tembong Agung, cikal bakal Sumedanglarang dengan ibu kota kerajaannya pertama di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Darmaraja.

Kerajaan diteruskan oleh Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung kemudian ke Sunan Guling. Ibukota kerajaan pindah ke Ciguling. Trah kerajaan diteruskan oleh putrinya Ratu Pucuk Umum yang memindahkan ibu kota kerajaan ke Kutamaya atau Padasuka sekarang. Hingga akhirnya Prabu Geusan Ulun, putra Ratu Pucuk Umum menjadi raja Sumedanglarang dan saat itulah terjadi burak Pajajaran, 22 April 1578.  Keturunan Prabu Geusan Ulun menjadi pemimpin Sumedang sampai kemerdekaan Indonesia.