Sumedang Kota Buludru, Terjadi Saat Bupati Mohamad Chafil


Baca juga : Wado, Geliat Kota di Timur Sumedang


Sumedang sebagai Kota Buludru terja di saat Sumedang dipimpin Bupati Mohamad Chafil (1960-1966). Sebutan ini karena Sumedang terpilih menjadi kota paling bersih dan indah se-Indonesia. Prestasi serupa sebelumnya diraih oleh Kabupaten Garut dengan sebutan Kota Intan.

Dalam Buku tentang Serajah Bupati Sumedang yang diterbitkan oleh Perpustakaan Daerah Sumedang, predikat Sumedang Kota Buludru disematkan karena bupati Mohamad Chafil terus menggalakkan Kebersihan Keindahan dan Ketertiban (K3). Alasan yang paling menonjol dari sebutan Kota Buludru adalah banyaknya pohon asam dan pohon mahoni di sepanjang jalan protokol.

“Ukurannya batang pohon besar dengan dedaunan memancarkan nuansa hijau yang teduh dan menimbulkan kesan lembut seperti lain buludru,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Dikdik Sadikin, Selasa (31/12/2019).

Pohon-pohon ini juga banyak ditanam di daerah pinggiran Sumedang. Karena gerakan menanam pohon dan menjaga keindahan serta kebersihan digelakkan hingga ke masyarakat pedesaan.

Pohon-pohon ini mulai ditebang satu persatu sejak tahun 1970-an dengan tujuan penataan kota dan pelabaran jalan.

Buku tersebut juga menginformasikan bahwa pada kepemimpinan Mohamad Chafil, seperti biasanya kantor bupati terletak di sebuah ruangan di Gedung Negara, sementara DPRD bersidang di  Gedung Panjang. Seorang pejabat yang pernah bekerja di bawah kepemimpinan Chafil, H. Gunawan, mengatakan tidak ada intruksi yang tidak dilakukan sejak zaman ia bekerja. Selain itu, seluruh intruksi akan semua dilakukan tanpa dikurangi atau dilebih-lebih kan.

“Misalnya jika harus menebar ikan 1 ton ke Cipeles ya harus 1 ton, jangan jadi 1 kuintal atau juga lebih,” kata Gunawan yang juga menyebutkan program kebersihan dan keindahan masa Mohamad Chafil dilakukan juga pada sungai Cipeles dan sungai-sungai kecil lainnya di seluruh daerah di Sumedang.

Sungai tidak hanya ditanami ikan melainkan dibersihkan lumpur dan tanaman liarnya. Dengan begitu ikan yang ditanami bisa tumbuh cepat dengan hasil memuaskan.

“Setelah beberapa bulan ditanami, banyak ikan di Cipeles dan bisa dipancing. Penanaman dan pembersihan Cipeles dilakukan teratur,” kata Gunawan.***(rtn)

 


Artikel Terkait