Mohamad Chafil, Bupati Yang Suka Murak Timbel Kala Perjalanan Dinas


Baca juga : Wado, Geliat Kota di Timur Sumedang


 

Mohamad Chafil adalah bupati ke-9 di Sumedang. Masa kebupatian di Sumedang dimulai tahun 1945 dan pertama dipimpin oleh Tumenggung Aris Kusumah Dinata. Mohamad Chafil berasal dari Cirebon. Hampir sama seperti bupati-bupati lainnya, Chafil sebelumnya bertugas di pemerintahan, namun tidak diketahui tempat tugasnya sebelum menjadi Bupati Sumedang.

“Karena bupati itu merupakan drop dari pusat maka mereka sebelumnya pernah menjabat di tingkat provinsi atau pemerintahan kota dan kabupaten lain. Namun biasanya mereka mempunyai ilmu yang bagus sejak kuliahnya seperti di UGM dan universitas besar lainnya,” ujar Gunawan, salah satu pegawai pemkab yang pernah bekerja bersama Mohamad Chafil.

Gunawan yang mulai masuk bekerja sebagai PNS di masa kepemimpinan Chafil ini menuturkan bahwa intruksi yang dilakukan bupati tidak mesti ad ayang diulang. Sekali perintah langsung jalan. Termasuk penanaman pohon di untuk mewujudkan Kota Buludru. Meski bibit pohonnya diberikan oleh pemerintahan kabupaten, namun tidak ada dana tambahan atau seremonial untuk menanam pohon di seluruh desa. Masyarakat menanam dengan kesadaran dan penuh sukacita.

Perintah seperti  ini juga dirasakan para pegawainya jika harus mengikuti rapat di luar daerah. Sekali intruksi langsung jalan meski tidak ada uang bensin dan makan.

Salah satu pesan yang pernah disampaikan bupati ini adalah para pegawainya harus bisa bekerja inisiatif dan kreatif agar roda pemerintahan jalan mesti tidak ad abiaya. Maka, tak jarang ketika rapat di luar daerah para pejabat yang akan pergi termasuk supir disuruh membawa bekal makanan yaitu timbel dari rumah. Di tengah jalan, pejabat dan supir ini berhenti di tengah jalan yang teduh lalu membuka timbel bersama-sama.

Begitu juga dengan uang bensin dan akomodasi lainnya. Pernah juga pegawai lain menganggarkan uang akomodasi seperti ini, namun harus berulang-ulang disobek surat pengadaan dana ini karena dana dari pusat tak kunjung datang.

Dana dari pusat pada zaman dulu, menurut Gunawan, hanya sepertiganya saja yang diterima kabupaten. Namun, uang yang harus disetorkan dari dari daerah ke pusat dituntut banyak sesuai target. Sementara, roda pemerintahan di daerah terus berjalan. Bupati Chafil pernah menjual kendaraan sedan untuk membiayai beberapa kegiatan pemerintahannya.***(rtn)

 


Artikel Terkait